SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang kembali mengingatkan pentingnya literasi keamanan digital setelah muncul kasus penipuan menggunakan foto Wali Kota Agustina Wilujeng pada aplikasi WhatsApp. Kasus ini terdeteksi setelah sejumlah warga melaporkan adanya pesan mencurigakan.
Pelaku memanfaatkan foto profil Wali Kota untuk menimbulkan kesan resmi sebelum meminta bantuan dana atau data pribadi. Cara tersebut disebut cukup efektif menipu korban yang kurang waspada.
Asisten Pemerintahan Sekda Kota Semarang, Mukhamad Khadik, menyampaikan bahwa nomor yang digunakan pelaku tidak terdaftar secara valid. “Nomor registrasi palsu ini hanya aktif di WhatsApp,” katanya.
Ia menekankan bahwa Wali Kota tidak pernah berkomunikasi secara pribadi terkait transfer dana atau permintaan finansial lain. Semua komunikasi resmi melewati protokol pemerintahan.
Pemkot Semarang menyebut maraknya modus penipuan digital menuntut warga lebih memahami cara kerja rekayasa sosial yang digunakan pelaku. Penipuan sering kali memanfaatkan nama pejabat untuk memancing kepercayaan.
Untuk mencegah jatuhnya korban baru, Pemkot merilis empat panduan keselamatan digital. Panduan pertama adalah tidak memberikan respons apa pun terhadap pesan mencurigakan.
Panduan kedua, warga diminta segera memblokir nomor tersebut melalui fitur blokir WhatsApp. Tindakan ini dianggap cara paling efektif untuk memutus komunikasi.
Panduan ketiga, melaporkan nomor tersebut kepada pihak kepolisian agar dapat ditindaklanjuti. Laporan warga menjadi dasar bagi aparat untuk melacak dan menganalisis pola kejahatan.
Panduan keempat, memverifikasi setiap informasi penting melalui saluran resmi Pemkot. Verifikasi menjadi langkah penting agar warga tidak mudah tertipu.
Khadik menilai banyak kasus penipuan berhasil karena pelaku memanfaatkan kurangnya pengetahuan warga terkait keamanan digital. Oleh sebab itu, literasi digital di masyarakat harus terus ditingkatkan.
Pemkot Semarang akan menggiatkan kampanye literasi digital melalui berbagai platform, termasuk media sosial resmi, kelurahan, dan komunitas lokal. Edukasi bertujuan memperkuat kemampuan warga mengenali modus penipuan.
Selain itu, perangkat daerah juga diminta melakukan edukasi kepada warga melalui program layanan masyarakat agar mereka memahami bahaya penipuan digital.
Warga diminta meneruskan informasi peringatan ini kepada keluarga, tetangga, dan rekan kerja. Penyebaran informasi dianggap penting untuk mencegah penipuan semakin meluas.
Pemkot Semarang menegaskan bahwa isu keamanan digital bukan hanya urusan pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama seluruh masyarakat.






Be First to Comment