Press "Enter" to skip to content
SINERGI: Peluncuran PIJAR yang merupakan kerjasama Pemkot Semarang, RSWN dan KNPI Semarang, Selasa (14/10). Foto: Ist.

Lewat Program PIJAR, Guru BK Didorong Jadi Garda Depan Pendampingan Mental Siswa

SEMARANG — Pemerintah Kota Semarang memperkuat peran sekolah dalam menjaga kesehatan mental remaja melalui peluncuran Program PIJAR (Pemuda Peduli dan Jaga Kesehatan Mental Remaja). Program ini merupakan hasil kolaborasi Pemkot, RSWN, KNPI, dan Fakultas Psikologi UNDIP.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menyampaikan bahwa guru BK memiliki peran strategis sebagai pendamping pertama siswa dalam mengatasi tekanan psikologis. “Mereka bukan hanya pendengar keluhan, tapi penjaga ketahanan mental generasi muda,” ujarnya.

Acara peluncuran digelar di RSWN Semarang, dihadiri ratusan peserta dari sekolah-sekolah menengah, mahasiswa, dan tenaga kesehatan.

Menurut Agustina, remaja saat ini menghadapi tantangan berat akibat ekspos media sosial dan tekanan akademik. “Tanpa bimbingan, mereka mudah kehilangan arah dan rentan terhadap gangguan mental,” ucapnya.

Direktur RSWN, dr. Eko Krisnarto, menambahkan bahwa data nasional menunjukkan peningkatan signifikan kasus depresi pada usia 12–18 tahun. “Skrining digital kami, Sultan Mataram, menjadi alat bantu mendeteksi dini risiko tersebut,” jelasnya.

Guru BK dari 90 sekolah SMP di Semarang dilatih mengenali tanda-tanda awal gangguan kecemasan dan depresi siswa.

Selain itu, mereka akan menjadi perpanjangan tangan tenaga psikolog dari RSWN untuk melakukan pendampingan lanjutan.

Ketua KNPI, Yohana Citra Mahardika, mengatakan pihaknya akan menurunkan tim ke sekolah-sekolah membawa misi “Sehat Mental, Hebat Moral”.

“PIJAR bukan hanya tentang seminar, tapi gerakan sosial yang menyentuh langsung anak-anak,” ujarnya.

Fakultas Psikologi UNDIP juga berperan aktif melalui program campus mentoring bagi siswa SMP. “Kami ingin membawa ilmu psikologi ke dunia nyata,” kata salah satu dosen, Yanuarisca N.C. Pratiwi, S.Psi.

Pemerintah berharap, sekolah menjadi rumah aman bagi remaja untuk belajar mengelola emosi dan tekanan sosial.

“Setiap anak berhak didengar, dan sekolah harus menjadi ruang yang empatik,” tegas Agustina.

Program PIJAR akan berlanjut hingga akhir tahun, menyasar 40 sekolah tambahan di wilayah Semarang Barat dan Selatan.

Reporter: Ismu Puruhito

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mission News Theme by Compete Themes.