JAKARTA – Mesin yang berhenti mendadak menjadi salah satu sumber kerugian terbesar di sektor industri. Produksi tertahan, pesanan terlambat, dan biaya perbaikan darurat ikut membengkak.
Laporan The True Cost of Downtime 2024 dari Siemens mencatat waktu henti tak terencana merugikan perusahaan Fortune Global 500 sekitar 1,4 triliun dolar AS per tahun, setara 11 persen pendapatan mereka. Di industri otomotif, satu jam mesin berhenti di pabrik besar bisa menelan biaya sekitar 2,3 juta dolar AS.
Laporan yang sama menyebut rata-rata pabrik besar masih kehilangan 27 jam per bulan akibat mesin berhenti tanpa rencana.
Arsalynk, perusahaan penyedia solusi IT untuk perusahaan, menawarkan cara untuk menangkap tanda kerusakan lebih awal lewat teknologi Internet of Things (IoT).
Lewat layanan Smart IoT System yang digarap bersama Kaluna Technology, sensor, GPS, dan panel kontrol mesin (PLC) dipasang pada lini produksi maupun armada kendaraan. Data dari perangkat itu dikirim secara real time ke sistem pusat.
Data sensor kemudian ditampilkan di dasbor pusat dan dipantau terus-menerus. Ketika ada angka yang melewati batas normal, sistem mengirim peringatan ke tim perawatan sebelum mesin benar-benar rusak.
“Mesin jarang rusak tanpa gejala. Getarannya berubah, suhunya naik pelan-pelan, atau konsumsi listriknya bertambah. Tanda-tanda itu sering tidak terlihat oleh mata, dan di situlah sensor bekerja,” kata Direktur PT. Bahtera Sapta Permata.
Untuk armada, sistem MyBoss membaca kondisi mesin dan konsumsi bahan bakar kendaraan dari jarak jauh. Pengelola tidak perlu menunggu kendaraan kembali ke pool untuk tahu ada masalah. Di lantai produksi, pendekatan serupa dipakai untuk memantau antrean kerja dan mesin yang menganggur, seperti yang diterapkan di Sinau Print.
Dalam laporan Siemens, perusahaan yang menerapkan perawatan prediktif melaporkan penurunan waktu henti tak terencana hingga 50 persen dan biaya perawatan turun 40 persen.
Hingga kini Arsalynk mencatat lebih dari 50 proyek enterprise di lebih dari 10 sektor industri, termasuk otomotif dan ritel.
“Untuk industri di Indonesia, satu hari mesin berhenti bisa berarti pesanan terlambat sampai ke pembeli. Deteksi dini jauh lebih murah dibanding perbaikan darurat,” pungkas Laode, IT Manager dari Arsalynk.






Be First to Comment